Psy - Park Jae-sang

Selasa, 18 Juni 2013

Larangan "Tabattul"



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"TABATTUL" artinya memutuskan diri dari wanita dan meninggalkan nikah untuk berkonsentrasi beribadah kepada ALLAH SWT.
Dalam Shahih Al-Bukhari dari Sa'ad bin Abi Waqqash ra. dia berkata : 
"Bahwa Rasulullah SAW melarang ' Ustman bin Madh'un dari hal itu (yakni tabattul), kalau seandainya membolehkan hal itu baginya, niscaya kami akan melakukan khisa' (mengebiri)".

Hikmah dari larangan tersebut adalah memberikan motivasi dan dorongan untuk menikah dalam rangka menjaga keturunan dan melindungi ciri khas kejantanan serta menghindari rasa sakit akibat perbuatan tersebut, selain itu pula  dalam rangka mencegah dari perbuatan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan oleh Allah SWT dari perkara yang baik. Allah SWT berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." [Al-Maidah : 87]

Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
"Wahai 'Abdullah, telah tersebar kabar bahwa kamu berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam, benarkah itu?
Maka aku menjawab: "Benar, wahai Rasulullah."

Beliau berkata: "Jangan kamu lakukan lagi hal itu, berpuasa dan berbukalah, shalat dan tidurlah! sebab jasadmu memiliki hak atas dirimu, kedua matamu memiliki hak atas dirimu, istrimu memiliki hak atas dirimu dan orang-orang yang mengunjungimu memiliki hak atas dirimu. Cukup bagimu berpuasa tiga hari tiap bulannya, sebab kamu akan mendapatkan sepuluh kali lipat pahala dari setiap kebaikan yang kamu kerjakan. Karena sesungguhnya puasa tiga hari tiap bulan bagaikan puasa sepanjang masa."
Aku tetap bersikeras untuk melakukannya sehingga beliaupun juga semakin keras. Maka aku katakan: "Wahai Rasulullah, aku memiliki kemampuan."
Beliau mengatakan : "Kalau begitu berpuasalah seperti puasa Nabiyyullah Dawud AS dan jangan kamu menambahnya!"
Aku bertanya: "Bagaimana puasanya Nabiyyullah Dawud AS?"
Beliau menjawab: "Setengah masa"
Maka 'Abdullah mengatakan ketika usianya telah lanjut: "Seandainya saja dulu aku mau menerima rukhsah (keringanan yang diberikan oleh Rasulullah SAW.






sekian sobbat, semoga bermanfaat.. amiin..
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar